Kunci Terkabulnya Doa
Salah satu amalan pembuka rezeki yang ampuh adalah dengan doa. Doa
sebagaimana sabda Baginda Nabi SAW adalah senjata orang mukmin dan inti
dari ibadah (At-Tirmidzi). Doa adalah ibadah, dan Allah sangat mencintai
hambaNya yang berdoa kepada-Nya. Berdoa hukumnya sunah.
Memperbanyak doa berarti menambah banyak pahala dan kebaikan.
Barangsiapa tidak berdoa kepada Allah berarti
ia telah meninggalkan kebaikan yang banyak. Apabila ia meninggalkan
doa karena merasa sombong dan tidak butuh Allah, wah itu lebih parah
lagi..
Doa dalam Islam adalah sebuah amalan yang istimewa. Ia
pun termasuk amalan pembuka pintu rezeki yang dapat diandalkan dan salah
satu amalan dari ayat seribu dinar yang kami anjurkan. Allah pun
menerangkan bahwasanya Dia malu apabila ada hamba-Nya yang berdoa
kepada-Nya sambil mengangkat kedua tangannya sedangkan Dia mengembalikan
tangan hamba-Nya dalam keadaan hampa.
Ada beberapa hal yang
perlu diperhatikan dalam berdoa agar doa kita diperhatikan dan
dikabulkan. Dibawah ini kami tuliskan beberapa hal yang menjadi sebab
terkabulnya sebuah doa. InsyaAllah jika kita memenuhi hal tersebut
mudah-mudahan permohonan kita diijabah oleh Allah. Namun anda masih
perlu untuk memenuhi syarat terkabulnya doa, waktu-waktu mustajabnya
doa, dan beberapa hal lainnya yang bisa anda temukan di situs-situs
lainnya di internet.
Kunci Terkabulnya Doa
Sesungguhnya salah satu kunci terkabulnya doa adalah ketika hati seorang
hamba sangat berharap kepada Allah dan berprasangka baik kepada Allah.
Jadi dua hal yang harus ada dalam hati kita adalah :
1. Hati yang berpengharapan kepada Allah.
2. Hati yang berprasangka baik kepada Allah.
Dalam al-Qur'an disebutkan
Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya
dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah
orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan)
perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap
dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu´ kepada Kami.
(QS.Al-Anbiyaa' : 90)
Firman Allah ini menjelaskan tentang
dikabulkannya doa Nabi Zakariya, dimana Allah mensifati doa tersebut
dengan penuh harap dan takut kepada Allah.
Atau siapakah yang
memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa
kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu
(manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada tuhan
(yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya). (QS An-Naml : 62)
Maksudnya, waktu doa yang mustajabah adalah doanya orang-orang pada
waktu mereka terdesak dalam kesulitan, karena saat itu mereka
benar-benar sedang berharap pada pertolongan Allah.
Diriwayatkan dari Anas ra., bahwa suatu ketika Rasulullah SAW pernah
masuk menemui seseorang yang sedang menghadapi sakaratul maut. Maka
beliau SAW bertanya,"Bagaimana kondisi hatimu?" Ia berkata,"Aku
mendapati hatiku takut akan dosa-dosaku dan aku mengharapkan rahmat
Tuhanku." Lalu beliau SAW bersabda,"Tidaklah berkumpul dua hal tersebut
(takut dan harap) dalam hati seorang hamba dalam keadaan ini, kecuali
Allah akan memberi apa yang diharapkannya dan mengamankan dari apa yang
ia takutkan." (HR Tirmidzi, Nasa'i, dan Ibnu Majah)
------------
Ini artinya, bila dalam berdoa kita mampu menghadirkan rasa harap dan
takut kepada Allah, maka doa kita itu tentu akan dikabulkan oleh Allah.
------------
Dalam sebuah hadis Qudsi Allah SWT, berfirman,"Aku adalah tergantung
prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Jika ia menyangka baik maka ia akan
memperoleh kebaikan. Dan jika ia menyangka buruk, maka ia akan
mendapatkan keburukan" (HR. Baihaki dan Ibnu Hibban)
Artinya,
Allah akan mengikuti prasangka hamba-Nya kepada-Nya. Bila seorang hamba
berprasangka baik kepada Allah bahwa Dia memperhatikan doanya dan yakin
bahwa hanya Allah sebaik-sebaik tempat memohon pertolongan, maka cepat
atau lambat ia akan mendapatkan rahmat-Nya itu. Sebaliknya bila seorang
hamba berprasangka buruk dengan meragukan Allah akan mengabulkan
permohonannya atau tidak yakin bahwa masalahnya bisa diangkat dengan
pertolongan Allah, maka bisa jadi selamanya keinginannya itu tidak akan
terkabul.
Ibnu Mas'ud berkata,"Demi Allah yang tiada Tuhan
selain Dia, tidaklah seorang hamba diberi sesuatu yang lebih baik
daripada berbaik sangka kepada Allah. Demi Allah yang tiada tuhan
melainkan Dia, tidaklah seorang hamba berprasangka baik kecuali Allah
akan memberi apa yang disangkanya itu. Demikian itu karena kebaikan ada
pada kedua tangan Nya."
Tergantung prasangka kita kepada-Nya,
oleh karenanya berbaik sangka lah kepada Allah. Sungguh Allah adalah
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Allah adalah Maha Lembut kepada
hamba-hamba-Nya. Maha Mendengar dan Sebaik-baik tempat bersandar dan
sebaik-baik tempat untuk dimintai pertolongan. Tidak akan kecewa seorang
hamba yang menjadikan Allah sebagai wakil dan penolongnya.
Dalam sebuah hadis Qudsi Allah berfirman :
"Sungguh Aku mendapatkan diri-Ku malu pada hamba-Ku yang mengangkat
(kedua tangannya) kepada-Ku kemudian Aku mengembalikan kedua tangannya
itu dalam keadaan hampa. Para malaikat berkata,"Wahai Tuhan kami, dia
bukan termasuk ahlinya." Allah berfirman,"Tetapi Aku ahli takwa dan ahli
maghfirah. Aku menyaksikan kepada kalian semua bahwa Aku telah
mengampuninya." (HR Al Hakim)
Seorang ulama dan ahli ibadah,
Tsabit Al-Bannani, pernah berkata kepada teman-temannya,"Sungguh aku
mengetahui kapan Tuhanku ingat kepadaku" Lalu mereka pun terkejut dan
bertanya,"Kamu mengetahui kapan Tuhanmu ingat kepadamu?" Ia
menjawab,"Ya" Mereka bertanya,"Kapan hal itu terjadi?" Ia
menjawab,"Ketika aku mengingat Nya maka Dia pun mengingatku." Dia
berkata,"Dan aku juga mengetahui kapan Tuhanku mengabulkan doaku." Maka
mereka pun bertanya kembali,"Kamu mengetahui kapan Tuhanmu mengabulkan
doamu? Kapankah dan bagaimanakah kamu dapat mengetahui hal itu?" Ia
kemudian menjawab,"Ketika hatiku merasa takut, kulitku merinding, kedua
mataku mengeluarkan air mata, dan dibukakan doa bagiku, maka ketika itu
aku mengetahui kalau doaku terkabul."
Dari hadis dan kisah diatas dapat kita simpulkan bahwa kunci terkabulnya doa diantaranya adalah :
1. Prasangka baik kepada Allah.
2. Hati yang takut kepada Allah dan penuh harap akan pertolongan-Nya.
Namun perlu kita perhatikan juga beberapa syarat yang harus kita penuhi agar doa kita diperhatikan Allah. Diantaranya adalah :
1. Senantiasa memenuhi perintah Allah dan menjauhi larangan Allah.
2. Memperhatikan waktu-waktu mustajabnya doa.
Allah telah menjelaskan agar kita berdoa kepadaNya, disertai dengan
memenuhi seruan-Nya, terikat dengan syariat-Nya, dan mengikuti
Rasul-Nya. Allah berfirman:
"Dan hendaklah kamu memenuhi seruan-Ku dan berimanlah kepada-Ku agar kamu mendapatkan petunjuk” (QS al-Baqarah : 186).
Dalam ayat diatas terdapat keterangan bahwa seorang hamba wajib
hukumnya untuk selalu memenuhi seruan-Nya dan meninggalkan larangan-Nya.
Apabila ia tidak memenuhi perintah Allah dan sering melanggar larangan
Allah maka hal tersebut bisa menjelma sebagai penghalang doa,
sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
Ia berdoa kepada Allah, tapi
makanan dan minumannya dari barang yang diharamkan, maka bagaimana
mungkin akan dikabulkan doanya. (HR. Muslim).
Oleh karena itu
apabila kita banyak berbuat dosa dan maksiat, ada baiknya untuk
istighfar dan bertaubat kepada Allah terlebih dulu.
Sedangkan waktu yang paling utama untuk berdoa adalah di saat sujud, di tengah malam, dan setelah shalat wajib.
Rasulullah saw. bersabda,"Posisi seorang hamba yang paling dekat dari
Tuhannya ialah pada saat ia sujud, maka perbanyaklah doa ketika itu."
(HR Muslim)
Abû Umamah berkata, “Pernah ditanyakan kepada
Rasulullah SAW, doa manakah yang paling didengar oleh Allah?” Rasulullah
SAW menjawab,"Doa di tengah malam dan setelah shalat wajib." (HR
Tirmidzi)
Begitu juga berdoa di bulan Ramadhan mempunyai pahala
yang sangat besar. At-Tirmidzi telah mengeluarkan sebuah hadits, ia
berkata, “Hadits ini hasan.” Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda:
"Ada tiga orang yang doanya tidak akan di tolak, yaitu orang yang shaum
hingga buka, imam yang adil, dan doa orang yang dizhalimi. Allah akan
mengangkat doanya hingga ada di atas awan dan akan dibukakan baginya
pintu-pintu langit. Dan Allah pun berfirman, “Demi kemuliaan-Ku, sungguh
Aku akan menolongmu kapan saja.”
Namun Allah SWT dan Rasulullah SAW sudah mewanti-wanti umat Islam agar kita tidak tergesa-gesa dalam berdoa kepada Allah.
Sebagaimana sabda beliau SAW :
"Seorang hamba yang berdoa akan terus menerus dikabulkan doanya
selama ia tidak berdoa dengan dosa dan memutuskan silaturahim, dan
selama ia tidak tergesa-gesa ingin cepat dikabulkan." Para sahabat
bertanya kepada Nabi SAW,“Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan
tergesa-gesa ingin cepat-cepat dikabulkan?” Rasulullah SAW
bersabda,“Yaitu ketika ia berkata,‘aku telah berdoa, aku telah berdoa,
tapi aku tidak melihat doaku dikabulkan.’ Kemudian ia mengeluh
karenanya, dan akhirnya meninggalkan doanya.” (HR. Muslim)
Hal
yang perlu dicatat juga adalah keberadaan doa sebagai suatu ibadah tidak
berarti bahwa kita boleh meninggalkan hukum kausalitas. Sirah
Rasulullah SAW adalah bukti yang nyata akan hal ini.
Sebagai
contoh, Rasulullah SAW telah menyiapkan pasukan untuk perang Badar.
Beliau mengatur pasukan masing-masing di tempatnya. Beliau juga telah
menyiapkan mereka dengan persiapan yang baik. Kemudian setelah itu
beliau masuk ke bangsalnya seraya meminta pertolongan kepada Allah.
Beliau pada saat itu banyak sekali berdoa, hingga Abû Bakar
berkata,“Wahai Rasulullah!, sebagian dari doamu ini telah cukup.”
--------------
Jadi, berdoa tidak berarti meninggalkan usaha dengan menjalani
kaidah kausalitas, melainkan doa itu harus senantisa menyertai setiap
usaha dengan tetap menjalani kaidah kausalitas.
--------------
Namun bagaimana jika sudah memohon kepada Allah lama sekali namun tak kunjung dikabulkan? Apakah doa kita ditolak oleh Allah?
Inilah jawaban dari Baginda Rasulullah SAW :
"Tak seorang muslim pun yang berdoa kepada Allah dengan suatu doa yang
di dalamnya tidak dosa dan memutuskan silaturahmi, kecuali Allah akan
memberinya salah satu dari tiga perkara, yaitu bisa jadi Allah akan
mempercepat terkabulnya doa itu saat di dunia; atau Allah akan menyimpan
terkabulnya doa di akhirat kelak, dan bisa jadi Allah akan memalingkan
keburukan darinya sesuai dengan kadar doanya." Para sahabat
berkata,“Kalau begitu kami akan memperbanyak doa.” Rasulullah SAW
bersabda,“Allah akan lebih banyak lagi (mengabulkannya).” ( HR.
Ahmad, al-Bukhâri dalam al-Adab al-Mufrad)
Wallahu a'lam bishowab